Usman Kholik

ucapan Q

Selamat Datang di Usman Kholik Blog Semoga Bermanfaat

Sabtu, 07 Januari 2012

PANCASILA SEBAGAI PARADIGMA PEMBANGUNAN NASIONAL


Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan Nasional Bidang Sosial, Budaya, Pertahanan dan Keamanan Dikaitkan dengan Nilai-nilai Pancasila
Dalam pembangunan nasional pasti dibutuhkan suatu kerangka pemikiran yang melandasi pembangunan nasional itu sendiri. Oleh karena itu, pancasila dapat dijadikan sebagai landasan pembangunan nasional. Namun demikian, dari kata-kata Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan Nasional bidang sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan akan tercipta beberapa pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu sebagai berikut:
- Apa itu Paradigma?
- Apa saja Nilai-nilai Pancasila yang dapat diterapkan sebagai Paradigma Pembangunan Nasional bidang sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan?
- Mengapa Pancasila dapat dijadikan Paradigma Pembangunan Nasional?
Orang yang pertama kali menyatakan istilah paradigma adalah Thomas Kuhn, sedangkan arti dari pardigma adalah kerangka pemikiran. Pembangunan Nasional tidak memiliki arti yang sempit hanya membangun fisiknya saja. Pembangunan Nasional memiliki arti yang luas yaitu membangun masyarakat Indonesia seutuhnya. Pancasila dapat dijadikan paradigma pembangunan Nasional karena nilai-nilai pancasila dapat diterapkan dan sesuai dengan perkembangan jaman. Dalam pembangunan Nasional harus mendasarkan pada nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila. Pada undang-undang alinea ke-IV telah tercantum tujuan dari Negara Indonesia, yaitu memajukan kesejahteraan umum dan mencapai masyarakat adil dan makmur. Dan dalam upaya membangun Indonesia seutuhnya itulah diperlukan penerapan dari nilai-nilai pancasila. Pancasila sebagai paradigma dalam pembangunan nasional bidang sosial dan budaya, pada hakikatnya bersifat humanistik karena memang pancasila bertolak dari hakikat dan kedudukan kodrat manusia itu sendiri. Hal ini sesuai dengan pancasila, sila kedua yang berbunyi kemanusiaan yang adil dan beradab. Oleh karena itu, pembangunan sosial budaya harus mampu meningkatkan harkat dan martabat manusia, yaitu menjadi manusia yang berbudaya dan beradab. Dalam upaya membangun masyarakat seutuhnya, maka hendaknya juga berdasarkan pada sistem nilai dan budaya masyarakat Indonesia yang sangat beragam. Berdasar pada sila ketiga dari pancasila, yaitu persatuan Indonesia, pembangunan sosial budaya dikembangkan atas dasar penghargaan terhadap nilai sosial dan budaya yang beragam di seluruh nusantara menuju pada tercapainya rasa persatuan sebagai bangsa. Diperlukan adanya pengakuan dan penghargaan terhadap budaya dan kehidupan sosial berbagai kelompok bangsa Indonesia sehingga mereka merasa dihargai dan diterima sebagai warga bangsa. Sedangkan pancasila sebagai paradigma pembangunan nasional bidang pertahanan dan keamanan, memiliki arti bahwa untuk mencapai terciptanya masyarakat hukum diperlukan penerapan dari nilai-nilai pancasila. Hal itu disebabkan karena Negara juga memiliki tujuan untuk melindungi segenap bangsa dan wilayah negaranya. Nilai-nilai pancasila dalam penerapan pancasila sebagai paradigma pembangunan nasional bidang pertahanan dan keamanan adalah :
a. Sila pertama dan kedua: pertahanan dan keamanan Negara harus mendasarkan pada tujuan demi tercapainya kesejahteraan hidup manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
b. Sila Ketiga: pertahanan dan keamanan Negara haruslah mendasarkan pada tujuan demi kepentingan warga dalam seluruh warga sebagai warga Negara.
c. Sila keempat: pertahanan dan keamanan harus mampu menjamin hak dasar persamaan derajat serta kebebasan kemanusiaan.
d. Sila kelima: pertahanan dan keamanan harus diperuntukan demi terwujudnya keadilan hidup masyarakat.
Membaca buku acuan dan referensi lain, dapat dimengerti tentang Pancasila sebagai Pardigma Pembangunan Nasional bidang sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan. Sehingga dapat diambil suatu kesimpulan bahwa nilai-nilai dari pancasila dapat dijadikan suatu paradigma atau kerangka pemikiran dalam pembangunan nasional.

Senin, 12 Desember 2011

Makalah Kebudayaan Flores

MAKALAH

KEBUDAYAAN FLORES







Disusun oleh :

1.USMAN KHOLIK

LOKAL A

SEMESTER 1


FAKULTASKEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
UNIVERSITAS NEGERI BORNEO TARAKAN

TARAKAN 2011


BAB I
PENDAHULUAN
A.   LATAR BELAKANG
Flores berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur,Indonesia. Flores termasuk dalam gugusan Kepulauan Sunda Kecil bersama Bali dan NTB, dengan luas wilayah sekitar 14.300 km². Daerah ini termasuk daerah yang kering dengan curah hujan rendah, memiliki potensi bidang pertanian yang rendah. Meskipun potensi di bidang pertanian rendah, Flores memiliki potensi di bidang lain yang cukup menjanjikan. Tetapi sayang, tidak banyak yang tahu mengenai potensi tersebut. Potensi pariwisata dan budaya Flores dianggap akan dapat memakmurkan perekonomian daerah Flores.
Daerah Flores yang indah sangat mendukung untuk dikembangkannya pariwisata disana. Ada banyak tempat-tempat indah di Flores yang bisa dikunjungi oleh wisatawan, baik wisatawan luar negeri maupun dalam negeri, misalnya Air Terjun Kedebodu/Ae Poro, Kebun Contoh Detu Bapa, Air Panas Ae Oka Detusoko, Air Panas Liasembe dan sebagainya. Tetapi pengembangan atas bidang ini masih sangat kurang.
Budaya Flores yang beraneka ragam juga dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Aneka tarian, lagu daerah, alat musik dan berbagai produk budaya lainnya merupakan kekayaan Flores yang menuntut warganya untuk selalu melestarikannya. Upacara-upacara adat yang unik juga dapat memberikan ciri khas bagi daerah Flores. Apabila potensi-potensi di bidang budaya ini dikembangkan, akan dapat memajukan dan meningkatkan perekonomian Flores di masa depan. Pembelajaran, pendalaman, pengembangan dan pelestarian terhadap budaya-budaya Flores harus mulai dilakukan sekarang, terutama oleh masyarakat Flores sendiri.














BAB II
PEMBAHASAN DAN ISI
A. IDENTIFIKASI FLORES
I. SEJARAH FLORES

Nama Pulau Flores mulanya berasal dari bahasa Portugis “Cabo de Flores” yang berarti “Tanjung Bunga”. Nama ini semula diberikan oleh S. M. Cabot untuk menyebut wilayah paling timur dari pulau Flores. Nama ini kemudian dipakai secara resmi sejak tahun 1636 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Hendrik Brouwer. Nama Flores yang sudah hidup hampir empat abad ini sesungguhnya tidak mencerminkan kekayaan flora yang dikandung oleh pulau ini. Karena itu, lewat sebuah studi yang cukup mendalam Orinbao (1969) mengungkapkan bahwa nama asli Pulau Flores adalah Nusa Nipa yang artinya Pulau Ular. Dari sudut Antropologi, istilah ini lebih bermanfaat karena mengandung berbagai makna filosofis, kultural dan ritual masyarakat Flores.

Sejarah kependudukan masyarakat Flores menunjukkan bahwa pulau ini dihuni oleh berbagai kelompok etnik yang hidup dalam komunitas-komunitas yang hampir eksklusif sifatnya. Masing-masing etnis menempati wilayah tertentu lengkap dengan pranata sosial budaya dan ideologi yang mengikat anggota masyarakatnya secara utuh (Barlow,1989;Taum,1997b). Heterogenitas penduduk Flores terlihat dalam sejarah asal-usul, suku, bahasa, filsafat dan pandangan dunia.

Suku bangsa Flores dianggap merupakan percampuran etnis antara MelayuMelanesia, dan Portugis. Dikarenakan lokasi yang berdekatan dengan Timor, yang pernah menjadi Koloni Portugis, maka interaksi dengan kebudayaan Portugis pernah terjadi dalam kebudayaan Flores, baik melalui Genetik, Agama, dan Budaya.

















II. KARAKTERISTIK GEOGRAFIS

Flores, dari bahasa Portugis yang berarti"bunga" berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur,Indonesia. Flores termasuk dalam gugusanKepulauan Sunda Kecil bersama Bali dan NTB, dengan luas wilayah sekitar 14.300 km². Pulau Flores bersama Pulau Timor, Pulau Sumba dan Kepulauan Alor merupakan empat pulau besar di Provinsi NTT yang merupakan salah satu provinsi kepulauan di Indonesia dengan 566 pulau. Di ujung barat dan timur Pulau Flores ada beberapa gugusan pulau kecil. Di sebelah timur ada gugusan Pulau Lembata, Adonara dan Solor, sedangkan di sebelah barat ada gugusan Pulau Komodo dan Rinca. Sebelah barat pulau Flores, setelah gugusan pulau-pulau kecil itu, ada pulau Sumbawa (NTB), sedangkan di sebelah timur setelah gugusan pulau-pulau kecil itu ada kepulauan Alor. Di sebelah tenggara ada pulau Timor. Di sebelah barat daya ada pulau Sumba, di sebelah selatan ada laut Sawu, sebelah utara, di seberang Laut Flores ada Sulawesi.


Pulau Flores ini dibagi menjadi sembilan kabupaten, sebagai berikut: Manggarai Barat  dengan ibukota Labuan Bajo, Manggarai dengan ibukota Ruteng, Manggarai Timur dengan ibukota Borong, Ngada dengan ibukota Bajawa, Nagekeo dengan ibukota Mbay, Ende dengan ibukota Ende,Sikka dengan ibukota Maumere,kabupaten Alor dengan ibukota Alor,kabupaten lembata denagn ibukota Lembata, dan Flores Timur dengan ibukota Larantuka.

Dari segi geografisnya, Flores memiliki beberapa gunung berapi aktif dan tidur, termasuk EgonIlimudaLereboleng, dan Lewotobi. Pulau Flores, Alor dan Pantar merupakan lanjutan dari rangkaian Sunda System yang bergunung api. Flores memiliki musim penghujan yang pendek dan musim kemarau yang panjang. Flores juga terkenal memiliki satu dari sekian satwa langka dan dilindungi di dunia yakni Varanus Komodiensis atau lebih dikenal dengan Biawak raksasa. Raptil ini hidup di Pulau Komodo dan Pulau Rinca, keduanya terletak di Kabupaten Manggarai Barat, Flores Barat. Selain Pulau Komodo dan Pulau Rinca yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Komodo (TNK), Flores juga memiliki satu Taman Nasional lagi yang terletak di Kabupaten Ende, yakni Taman Nasional Kelimutu. Daya tarik utama Taman Nasional Kelimutu adalah Danau Tiga Warna-nya yang selalu berubah warna air danaunya. Akan tetapi sesungguhnya di dalam Kawasan Taman Nasional Kelimutu itu tumbuh dan berkembang secara alami berbagai jenis spesies tumbuhan dan lumut. Oleh karena itu di awal tahun 2007, pihak pengelola Taman Nasional Kelimutu mengadakan identifikasi terhadap kekayaan hayati Taman Nasional Kelimutu untuk kemudian dikembangkan menjadi Kebun Raya Kelimutu. Jadi nantinya para wisatawan yang datang ke Kawasan Wisata Alam Kelimutu, selain dapat menikmati keajaiban Danau Tiga Warna, juga dapat mengamati keanekaragaman hayati dalam Kebun Raya Kelimutu.









III. POPULASI

Jumlah penduduk di provinsi ini adalah 4.073.249 jiwa (2003) (BPS NTT). Sebagian besar penduduk beragama Kristen dengan persentase 91% (mayoritas Katolik), 8% Muslim, 0,6% Hindu atau Buddhis, dan 0,4% menganut kepercayaan tradisional. Nusa Tenggara Timur menjadi tempat perlindungan untuk kalangan kristen di Indonesia yang menjauhkan diri dari konflik agama di Maluku danIrian Jaya.

Tingkat pendaftaran sekolah menengah adalah 39% yang jauh dibawah rata-rata Indonesia (80.49% tahun 2003/04, menurut UNESCO). Minuman bersih, sanitasi dan kurangnya sarana kesehatan menyebabkan terjadinya kekurangan gizi anak (32%) dan kematian bayi (71 per 1000) juga lebih besar dari kebanyakan provinsi Indonesia lainnya.


IV. PEREKONOMIAN DAN MATA PENCAHARIAN
Menurut berbagai standar ekonomi, ekonomi di provinsi ini lebih rendah daripada rata-rata Indonesia, dengan tingginya inflasi (15%),pengangguran (30%) dan tingkat suku bunga (22-24%).
Berkaitan dengan mata pencaharian masyarakat flores, suku Mehen di Flores Timur mempertahankan eksistensinya yang dinilainya sebagai tuan tanah, jadilah mereka pendekar-pendekar perang, yang dibantu suku Ketawo. Mata pencaharian orang Flotim/Lamaholot yang utama terlihat dalam ungkapan sebagai berikut:
Ola tugu, here happen, Lua watana, Gere Kiwan, Pau kewa heka ana,
Geleka lewo gewayan, toran murin laran. Artinya: Bekerja di ladang, Mengiris tuak, berkerang (mencari siput dilaut), berkarya di gunung, melayani/memberi hidup keluarga (istri dan anak-anak) mengabdi kepada pertiwi/tanah air, menerima tamu asing.

Masyarakat Nagekeo pendukung kebudayaan Paruwitu (kebudayaan berburu), masyarakat Soa pendukung Reba (kebudayaan tahun baru, pesta panen), Pendukung kebudayaan bertani dalam arti yang lebih luas ialah Ngadhu/Peo, terjadi pada sebagian kesatuan adat Nagekeo, Riung, Soa dan Ngada.
Mata pencaharian masyarakat Sikka umumnya pertanian. Adapun kelender pertanian sbb: Bulan Wulan Waran - More Duru (Okt-Nov) yaitu bulan untuk membersihkan kebun, menanam, menyusul di bulan Bleke Gete-Bleke Doi - Kowo (Januari, Pebuari, Maret) masa untuk menyiangi kebun (padi dan jagung) serta memetik, dalam bulan Balu Goit - Balu Epan - Blepo (April s/d Juni) masa untuk memetik dan menanam palawija /kacang-kacangan. Sedangkan pada akhir kelender kerja pertanian yaitu bulan Pupun Porun Blebe Oin Ali-Ilin (Agustus - September).
Potensi alam darat dan laut Pulau Flores dan Lembata sudah dikenal sejak dahulu kala. Karena surplusnya potensi alam yang dimiliki itulah, sejak dahulu pula Pulau Flores dijuluki nama Pulau Bunga. Inilah fakta alam yang harus disyukuri oleh masyarakat penghuni Pulau Flores-Lembata.
Kini Pulau Flores dan Lembata yang hampir sama dengan Pulau Timor telah dibagi atas tujuh kabupaten. Dari ujung barat, Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, Ngada, Ende, Sikka, Flores Timur dan Kabupaten Lembata di ujung timur. Masing-masing kabupaten kaya dengan aneka kekayaan alamnya. Mulai dari berbagai jenis ikan dan kekayaan laut sampai ke daratan dengan humus tanah yang subur. Potensi alam ini menjanjikan kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyat penghuni tujuh kabupaten itu.
Sebagian besar penduduk (85%) hidup dan bekerja pada sektor pertanian, termasuk peternakan. Selebihnya bekerja pada sektor-sektor perdagangan, industri, angkutan, jasa-jasa kemasyarakatan, dan lain-lainnya.
Komoditi-komoditi utama yang banyak dihasilkan dan diperdagang -kan, baik lokal, antar pulau, maupun ekspor adalah hasil-hasil peter nakanseperti sapi, kerbau, kuda, dan babi, hasil-hasilpertanian seperti jagung, beras, ubi-ubian, kacang-kacangan, kopra, kopi, asam, kemiri, dan kapuk, hasil-hasil kehutanan (antara lain kayu cendana), hasil-hasil perikanan, dan hasil-hasil industri kecil, industri rakyat seperti minyak kelapa, minyak kayu putih, minyak/serbuk cendana, dan hasil-hasil kerajinan.
Belum lagi puluhan jenis komoditi pertanian seperti padi sawah/ladang, jagung, kacang-kacangan terutama kacang tanah dan kacang merah, ubi kayu/singkong, nenas,
Dalam sektor pertanian, kabupaten ngada memegang peranan penting, Wilayah ini sangat potensial untuk pengembangan tanaman pangan dan perkebunan bahkan menjadi salah satu andalan Lumbung Pangan Propinsi Nusa Tenggara Timur. Luas potensial lahan basah meliputi 12.982 Ha dan 3.547 Ha di antaranya merupakan irigasi teknis.
Dari luas potensial tersebut yang telah berfungsi adalah7.388 Ha. Luas potensial lahan kering meliputi 64.195 Ha sedangkan luas fungsional 48.171 Ha untuk tanaman campuran pangan dan perkebunan. Ketersediaan lahan untuk pengembangan tanaman perkebunan masih cukup besar yakni seluas 36.342 Ha.
Pada Sub Sektor Peternakan juga tersedia lahan 15.193 Ha untuk padang penggembalaan. Pengusahaan ternak masih dilaksanakan secara sporadik dan tradisional. Sepanjang perairan Utara dan Selatan Kabupaten ini seluas 6.988 88 Km2 kaya akan berbagai jenis ikan.
- Ikan Pelagic 1,3/Km2 : 6.899 ton/tahun
- Ikan Demersol 0,9/Km2: 4.829 ton/tahun.
- atau dengan potensi lestari sumber daya perikanan laut rata-rata 13.799 ton/tahun.
Tingkat pemanfaatan yang dapat dicapai saat ini baru 24%. Budi daya laut yang dapat dikembangkan antara lain: Benur, Nener, Rumput Laut, Tuna Cakalang, Cumi - cumi, Hiu Botol, terutama disepanjang perairan Utara Kabupaten Ngada. Selain itu potensi perikanan tambak dan air tawar.
Luas Kawasan hutan 108.091 Ha, yang terdiri dari Hutan Lindung, HutanProduksi Tetap, Hutan Produksi Terbatas, Hutan Produksi yang dapat dikoversi. Selain itu hutan Cagar Alam 8.771 Ha, dan Hutan Wisata Alam 11.900 Ha.
Selain itu, juga terdapat tanaman perkebunan yang menghasilkan komoditi unggulan yang mampu menopang perekonomian rakyat. Misalnya, kelapa yang menghasilkan kopra produksi Flores-Lembata 29.869 ton/tahun dengan perincian, Lembata 2.270 ton/tahun, Flotim 9.623 ton/tahun, Sikka 4.379 ton/tahun, Ende 7.719 ton/tahun, Ngada 3.466 ton/tahun dan Manggarai 2.412 ton/tahun.
Kelapa yang memroduksi kopra juga merupakan penunjang ekonomi orang Flores sejak dahulu kala. Sejak 1990 juga pulau ini telah memiliki komoditi baru yang sungguh menjadi penopang ekonomi petani hampir di seantero Flores-Lembata yakni jambu mete.
Tanaman yang cocok hidup di daerah tropis ini hampir berkembang merata di seluruh wilayah daratan Flores dan Lembata dengan estimasi volume produksi melebihi 15.481 ton/tahun. Konsentrasi produksinya ada di 13 kecamatan di wilayah Kabupaten Flores Timur dengan produksi 7.988 ton sampai dengan 13.000 ton/tahun. Komoditi lainnya adalah kopi, kakao dan kemiri.
Flores khususnya Manggarai dikenal penghasil kopi dan vanili. Sebagian besar tanaman kopi banyak dijumpai di Manggarai bagian timur. Wilayah ini memiliki topografi yang berbukit-bukit dan bergunung-gunung serta iklim agak sejuk, sehingga menguntungkan tanaman kopi, terutama kopi Arabika yang membutuhkan iklim sejuk. Selain Arabika, jenis robusta pun banyak ditanam di Manggarai Timur.
Daya saing kopi Manggarai sebenarnya masih rendah. Sistem pengolahannya masih tradisional. Biji kopi hanya dijemur di bawah terik matahari di pinggir jalan. Ini membuat biji kopi tidak kering sempurna. Akibatnya, kualitasnya pun rendah.Saat ini mulai dirintisunit pengolahan kopi secara mekanis di Desa Rendenao, Kecamatan Poco Ranaka. Dengan alat ini biji kopi baru bisa dikeringkan saja, belum sampai tahap pengolahan menjadi bubuk. Memang sudah ada beberapa perusahaan di Ruteng yang mengolah biji kering menjadi bubuk. Tapi, jumlahnya sangat terbatas. Sampai saat ini, kebanyakan pemasaran kopi dari petani masih da-lam bentuk biji kering.
Masyarakat Manggarai melakukan polikultur. Mereka tidak hanya mengandalkan hasil dari kopi, tetapi juga melakukan diversifikasi tanaman lain seperti jambu mete, vanili, dan kemiri. Ini merupakan salah satu cara mengganti peran kopi bila harganya mulai tidak berpihak pada petani.
Produk unggulan Manggarai yang lain adalah vanili. Nilai ekonomisnya lumayan tinggi. Saat ini, harga per kilogram kering Rp 600.000 -Rp 800.000 atau basah Rp 80.000 - Rp 100.000 per kilogram. Tingginya nilai jual ini cukup menggiurkan petani di Kecamatan Elar, Sambi Rampas, Lamba Leda, dan Poco Ranaka.
Selain itu, juga terdapat potensi ternak babi dan ayam serta potensi pariwisata dengan berbagai obyek wisata yang amat indah dan menarik bagi wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan domestik (wisdom).
Sebagai provinsi kepulauan (archipelago), wilayah laut NTT khususnya daerah Flores memiliki kekayaan biota laut yang bernilai ekonomis tinggi di dunia. Ironisnya, baru sekitar 30 persen kekayaan laut yang luar biasa itu dikelola dan dimanfaatkan bagi kemakmuran rakyat Flores. Bukan hanya itu, sebagian besar masyarakat Flores tidak berminat masuk laut, sehingga kekayaan laut Flores masih merupakan harta karun yang menadi rebutan nelayan dari luar daerah dan nelayan asing.
Guna mengoptimalkan potensi laut yang sangat besar itu untuk kemakmuran rakyat, Pemerintah Daerah Flores belum lama ini mencanangkan program “Gerakan Masuk Laut” (Gemala).
Gerakan yang bertumpu pada kondisi geografis Flores yang sebagian besar terdiri dari perairan merupakan suatu terobosan untuk merubah paradigma pembangunan dan sekaligus mentalitas masyarakat Flores yang selama ini lebih berorientasi ke darat.
Substansi Gemala yang kini dicanangkan dan disosialisasikan secara intensif oleh Pemda Flores dan seluruh komponen terkait adalah upaya merubah mentalitas agraris masyarakat NTT menuju mentalitas maritim. Laut flores menyimpan kekayaan yang tiada taranya dan jika dieksploitasi secara terencana dan melibatkan masyarakat lokal. Bukan tidak mungkin hal itu akan membawa kemakmuran bagi masyarakat.
Upaya merubah mentalitas agraris ke mentalitas maritim tidak mudah bagi masyarakat Flores. Sejauh ini yang berprofesi sebagai nelayan atau yang akrab dengan laut sebagian besar adalah para pendatang dari Bajo. Mereka menetap di pesisi dan menjadi pemasok ikan bagi konsumen lokal.
Memang ada beberapa etnis setempat yang berprofesi sebagai nelayan tradisional, misalnya orang Ende, Lembata dan sebagian Sikka. Namun cara penangkapan yang mereka lakukan masih menggunakan alat-alat tradisional, sehingga hasil yang diperoleh tidak maksimal. Sementara mayoritas masyarakat Flores berprofesi sebagai petani.
Berkaitan dengan konsep program Gemala, saat ini Pemda NTT telah membuat perencanaan tentang implementasi program Gemala itu dengan titik berat meningkatkan kemampuan dan skill masyarakat pesisir, termasuk pembentukan plasma inti nelayan dan masyarakat pesisir sesuai dengan karakteristik setiap pulau.
Dalam hal ini sangat dibutuhkan kebijakan publik yang mengatur tata cara pengeksploitasian kekayaan laut, pelestarian lingkungan dan biota laut, termasuk perlindungan kawasan laut Flores dari para nelayan liar, baik dari daerah lain maupun nelayan asing.
Sebut saja ikan tuna, cakalang, kerapu, udang (lobster), rumput laut (see weeds), mutiara, tripang, dan sebagainya. Belum lagi potensi wisata bahari yang tersebar di seantero pulau di Flores yang menawarkan panorama yang sangat eksotik.
Dilihat dari potensi yang ada dan peluang pasar manca negara, khususnya Jepang, Hongkong, Taiwan dan Cina, peluang usaha penangkapan ikan tuna dan cakalang masih sangat besar. Penyebaran jenis ikan tuna dan cakalang ini berada hampir pada semua perairan laut Flores.
Namun yang berpotensi cukup besar dengan tingkat eksploitasinya masih rendah terdapat di Kabupaten Flores Timur (laut kecamatan Larantuka, Adonara dan Tanjung Bunga), di Kabupaten Sikka (laut sebelah utara dan selatan), di Kabupaten Ende (laut sebelah selatan dan utara), serta di Kabupaten Ngada (pantai utara dan selatan).
Selain kedua jenis ikan tersebut, di NTT juga diusahakan penangkapan ikan jenis kerapu di perairan Komodo, Manggarai dan Sikka. Ikan yang bernilai ekonomis tinggi dan merupakan komoditas ekspor sangat cerah pada masa mendatang konon sangat cerah banyak di daerah itu.
Yang tak kalah menariknya adalah potensi lestari rumput laut (see weeds). Tumbuhan tersebar hampir diperairan NTT ini bernilai ekonomis penting karena kegunaannya yang luas dalam bidang industri makanan, kosmetik, minuman dan lain-lain.
Di Indonesia pemanfaatan rumput laut sebagian besar sebagai bahan komoditas ekspor dalam bentuk rumput laut kering.
Dari tahun ke tahun pertumbuhan ekspor rumput laut mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan, namun relatif kecil dan jauh di bawah produksi philipina. Hal itu disebabkan karena produksi rumput laut belum optimal. Di Flores sendiri gairah masyarakat untuk membudidayakan rumput laut cukup tinggi, walaupun masih dalam skala kecil.
Selain bermata pencaharian di bidang pertanian, perkebunan maupun perikanan,di flores juga terdapat anggota masyarakat yang berprofesi sebagai wiraswasta dan pegawai negeri.
Orang Flores masih memiliki sikap sombong dan primitif. Orang Flores juga tidak menghargai ilmu pengetahuan. Selain sombong dan primitif, orang Flores itu feodal. Tradisi di masa lalu kemudian mempengaruhi sifat orang Flores yang sombong. Sementara itu, sikap primitif terbentuk dari kepercayaan dinamisme yang dianut dulu, yakni kepercayaan pada dewa-dewa (nitu).
Adapun beberapa keutamaan orang flores antara lain :

a) Percaya kepada Tuhan yang Kuasa
Sebelum agama Katolik tiba di Flores, masyarakat di sana sudah mengenal Tuhan yang Kuasa, yang disebut ‘Lera Wulan Tanah Ekan’ atau Tuhan Langit dan Bumi. Orang Flores memiliki rasa syukur dan penyerahan diri yang begitu dalam kepada Tuhan. Untuk memperkuat kenyataan bahwa seseorang bertindak benar dan jujur, sekaligus memperingatkan lawannya, mereka berucap: "Lera Wulan Tanah Ekan no-on matan": Tuhan mempunyai mata (untuk melihat), yang berarti Tuhan mengetahuinya, ia maha tahu, ia maha adil, ia akan bertindak adil. Pada peristiwa kematian, orang biasanya berkata: "Lera Wulan Tanah Ekan guti na-en": Tuhan mengambil pulang miliknya.
Pada perayaan syukur sebelum panen, ada kewajiban bagi para anggota masyarakat untuk mempersembahkan sebagian hasil panen itu sebagai tanda ucapan syukur kepada Tuhan sebelum menikmati hasil panen tersebut. Adapun doa yang didaraskan sebagai berikut:
Bapa Lera Wulan lodo hau Bapak Lera Wulan turunlah ke sini
Ema Tanah Ekan gere haka Ibu Tanah Ekan bangkitkan ke sini
Tobo tukan Duduklah di tengah
Pae bawan Hadirlah di antara kami
Ola di ehin kae (Karena) kerja ladang sudah berbuah
Here di wain kae (Karena) menyadap tuak sudah berhasil
Goong molo Makanlah terlebih dahulu
Menu wahan Minumlah mendahului kami
Nein kame mekan Barulah kami makan
Dore menu urin Barulah kami minum kemudian
b) Kejujuran dan Keadilan
Kepercayaan yang kuat dan penyerahan diri seutuhnya pada Tuhan menimbulkan nilai-nilai keutamaan lainnya yang juga dijunjung tinggi orang Flores seperti kejujuran dan keadilan. Nilai ini muncul sebagai keyakinan bahwa ‘Tuhan mempunyai mata’ (Lera Wulan Tanah Ekan no-on matan) . Tuhan melihat semua perbuatan manusia, sekalipun tersembunyi. Dia menghukum yang jahat dan mengganjar yang baik.
Sifat dan tabiat kejujuran ini sangat menarik perhatian Vatter (1984: 56). Dia mencatat, hormat terhadap hak milik oang lain tertanam sangat kuat di benak orang Flores. Pencurian termasuk pelanggaran berat di Flores. Pada zaman dahulu dikenakan hukuman mati, dan saat ini pencuri dikenai sangsi adat berupa denda yang sangat besar.

c) Penghargaan yang Tinggi akan Adat dan Upacara Ritual
Studi Graham (1985) mengungkapkan bahwa dalam kehidupan sosial-budaya masyarakat Flores Timur, ada empat aspek yang memainkan peranan penting, yaitu episode-episode dalam mitos asal-usul, dan tiga simbol ritual lainnya yakni nuba nara (altar/batu pemujaan), korke (rumah adat), dan namang(tempat menari yang biasanya terletak di halaman korke). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa orang Flores memiliki penghargaan yang sangat tinggi akan adat-istiadat dan upacara-upacara ritual warisan nenek-moyangnya.
Mitos cerita asal-usul dipandang sebagai unsur terpenting dalam menentukan otoritas dan kekuasaan. Melalui episode-episode dalam mitos asal-usul itulah legitimasi magis leluhur pertama dapat diperoleh. Mitos asal-usul yang sering dikeramatkan itu biasanya diceritakan kembali pada kesempatan-kesempatan ritual formal seperti membangun relasi perkawinan, upacara penguburan, terjadi sengketa tanah, persiapan perang, pembukaan ladang baru, panen, menerima tamu, dan sebagainya.
Nuba-nara atau altar/batu pemujaan merupakan simbol kehadiran Lera Wulan Tanah Ekan. Ada kepercayaan bahwa Lera Wulan turun dan bersatu dengan Tanah Ekan melaluiNuba Nara itu. Korke yang dilengkapi dengan Nama adalah "gereja" tradisional, pusat pengharapan dan penghiburan mereka.
Sangat kuat dan menonjolnya peranan devoci kepada Bunda Maria di kalangan orang Flores di satu pihak menunjukkan unsur historis (warisan zaman Portugis) tetapi sekaligus kultural (pemujaan terhadap Ibu Bumi, seperti dalam ungkapan Ama Lera Wulan-Ina Tanah Ekan).
d) Rasa Kesatuan Orang Flores
Ikatan kolektif yang sangat kuat dalam masyarakat Lamaholot terjadi pada tingkat kampung atau Lewo. Masyarakat Lamaholot pada umumnya memiliki keterikatan yang khas dengan Lewotanah atau tempat tinggal. Melalui ukuran kampung, mereka membedakan dirinya dengan orang dari kampung lainnya. Kampung merupakan kelompok sosial terbesar, dan kesadaran berkelompok hampir tidak melampaui batas kampung (Vatter, 1984: 72-73).
Di Flores sebetulnya tidak ada kesadaran akan persatuan yang bertopang pada pertalian genealogis, historis maupun politis. Seperti disebutkan di atas, keterikatan mereka lebih disebabkan faktor kesamaan tempat tinggal atau kampung. Sekalipun demikian, pola organisasi kampung selalu dibangun dengan semangat dan pemikiran tentang kohesi sosial yang berpangkal pada kerangka genealogis. Dalam kampung-kampuang itu tinggal orang-orang dari berbagai kelompok imigran, yang kemudian digolong-golongkan dalam suku (istilah untuk suku adalah Ama).
Itulah sebabnya orang Flores cenderung menyapa sesamanya dengan sebutan kekerabatan (Om, Tante, Kakak, Adik atau mengaku sebagai saudara). Mereka juga bisa menghargai perbedaan politis, agama, etnis bila mereka telah diikat dalam satu kesatuan tempat tinggal. Rasa kesatuan seperti ini, kadang-kadang membuat orang Flores menjadi sedikit bersifat etnosentris.

Musikalitas adalah bakat alam orang-orang Flores.Sekalipun di Flores tidak banyak ditemukan alat-alat instrumen musik, rasa musikal orang Flores tergolong cukup istimewa. Hal ini dapat dilihat dalam pandangan Max Weber, yang dikutip dari J. Kunst (1942) berikut ini.
“Of musical instruments I did not see much, although, as a matter of fact, the population of Flores seemed to me to be more musically talented than the kindred Indonesian tribes whose acquaintance I made in Sumatra, Java and Celebes, where I never heard any tolerable voices sing agreeable melodies. It was different in Flores. Many a sonorous male voice, rendering simple songs at the river bank, still sounds in my ears; melodies which might well please the European ear, too. And where is the Florinese who could paddle without singing hispantuns, complete with soli and refrain sung in chorus? Among these soloists there were some voices that might, with better training, have been turned out as good tenor, soprano and bass voices. But this hardly seems to me to apply to the treble voices of the genuine Malay people, including the Buginese and Macassarians. It would seem that we have here to do with a morphological distinction in the vocal means of expression, which may well amount to a support of my view concerning the kinship of the Florinese with tribes living further east” (p. 32).
Berikut ini terjemahan selengkapnya kutipan di atas.
“Tentang musik instrumen saya tidak banyak menemukan, tetapi adalah sebuah fakta bahwa penduduk Flores memiliki bakat musikal yang lebih dibandingkan suku-suku bangsa Indonesia lainnya yang saya jumpai di Sumatra, Jawa dan Sulawesi. Saya tidak pernah mendengar suara nyanyian yang kompak dan serasi dengan melodinya. Ini berbeda di Flores. Banyak terdengar suara pria yang dalam, gema nyanyian di sepanjang sungai, tetap terngiang-ngiang di telingaku, melodinya menyenangkan telinga Eropa juga. Dan di manakah orang Flores yang berjalan tanpa menyanyikan pantunnya, lengkap dengan solo dan refrainnya dalam koor? Di antara penyanyi-penyanyi solo ini, terdapat beberapa suara yang, dengan latihan yang lebih baik, akan menjadi penyanyi tenor, sopran dan bass yang baik. Tetapi hal ini jelas hampir tidak terlihat pada suara penduduk Melayu asli, termasuk Bugis dan Makasar. Barangkali inilah pembedaan morfologis dalam ekspresi vokal, yang mendukung gagasanku tentang kekeluargaan di Flores dengan suku-suku yang hidup di timur jauh" (h. 32).
Kesaksian menarik juga ditulis Kapten Tasuku Sato dan P Mark Tennien dalam buku I REMEMBER FLORES, penerbit Farrar, Straus and Cudahy, New York, 1957. Kapten Tasuku Sato yang lahir di Taipei pada Oktober 1899, pernah menjabat Komandan Angkatan Laut Jepang di Flores pada 1943. Tasuku Sato menulis: “... Penduduk pribumi Flores memiliki bakat musikal luar biasa. Mereka dapat mempelajari lagu baru dan langsung melagukannya dalam sekli dengar.”
“Orang-orang Flores mempunyai bakat alam dalam bidang musik. Mereka dapat mempelajari lagu dengan cepat dan baik sekali. Mereka juga menirukan lagu-lagu Jepang dengan cepat. Orang-orang Flores juga mudah menangkap lagu-lagu yang mereka dengar dari radio, lalu menirukannya. Mereka mempunyai orkes asli yang terdiri atas bermacam-macam drum. Lagunya hidup dan sedap didengar. Di bawah pengawasan komisi kebudayaan, anak-anak diajarkan melagukan dan memainkan nyanyian-nyanyian Jepang....”
Orang Flores, seperti terungkap dalam kutipan di atas, memiliki bakat musikal yang sangat tinggi, khususnya dalam nyanyian koor. Sebagian (kecil) lagu-lagu Flores sudah diakomodasikan dalam liturgi dan sudah termuat dalam bukuMadah Bhakti. Tetapi buku ini kurang disenangi di Flores karena kurang variatif dan terasa seperti menekan kreativitas.
Masih ada satu hal yang penting menjadi catatan. Jika orang Flores, menurut Max Weber, mempunyai bakat musikal yang sangat tinggi.
Beberapa studi (Vatter, 1984; Graham, 1985; Taum, 1997b) mengungkapkan bahwa keluarga di Flores (dalam hal ini Flores Timur) memainkan peranan yang sangat kecil dalam proses pendidikan dan sosialisasi anak. Keluarga bukan tujuan melainkan sarana bagi pembentukan kelompok sosial yang menjadi inti masyarakat dan menentukan suku. Suku itulah basis sosial terkecil dan otonom. Semua hak dan kewajiban individual diarahkan kepada kebersamaan suku. Itulah sebabnya ruang bagi ekspresi dan aktualisasi potensi pribadi menjadi lebih terbatas, sebaliknya kebersamaan menjadi lebih bernilai. Mungkin ini salah satu kendala budaya yang menghambat hal itu, di samping faktor-faktor teknis lain seperti peluang, modal, dan sebagainya.
Menyandarkan asumsi pada penemuan lewat penelitian-penelitian di atas, gambaran Flores di jaman dulu sangat jauh berbeda dengan Flores di jaman sekarang. Gambaran orang-orang Flores jaman dulu seakan hilang tanpa jejak seperti hilangnya jejak orang-orang Indian suku Maya. Peradaban yang didominasi oleh kehidupan spiritual murni tidak lagi mampu terlihat sebagai bagian sejarah bernilai tinggi bagi orang Flores.
Padahal, tanpa kehidupan spiritual murni, orang Flores bagai mayat hidup tanpa nafas. Sisa-sisa kebanggaan yang bisa terlihat lewat musikalitas alamnya, hanyalah bagian kecil dari kebesaran nenek moyang orang Flores. Banyak cerita yang tersebar dari mulut ke mulut, diceritakan lagi dari orang tua kepada anaknya, telah menyimpan misteri luar biasa pencapaian spiritual tingkat tinggi disana.
Jika India memiliki banyak ‘sadhu’ dan ‘para yogi’, maka Flores pun memiliki orang-orang seperti itu. Sampai sekarang, masih terdengar cerita-cerita mereka tinggal di hutan dan tempat-tempat yang sulit dijangkau.Bedanya, tidak ada catatan sejarah yang mencatat bahwa ada orang suci dan para bijak muncul dari Flores.
Namun orang Flores tidak bisa memungkiri bahwa cerita-cerita nenek moyang mereka tidak lepas dari cerita-cerita kesucian dan kebijaksanaan, termasuk kemampuan supranormal yang dimiliki nenek moyang orang-orang Flores. Bahkan ada sebuah kemungkinan yang masih perlu digali, Flores adalah tempat penempaan spiritual murni dikarenakan alam Flores di jaman dulu sangat potensial bagi para pencari kebenaran hidup. Ada banyak sadhu dan yogi yang tak terekam sejarah Flores, mungkin nama dan perjalanan mereka tidak akan pernah terekam sejarah.










B. SISTEM KEKERABATAN
Klen (Clan) sering juga disebut kerabat luas atau keluarga besar. Klen merupakan kesatuan keturunan (genealogis), kesatuan kepercayaan (religiomagis) dan kesatuan adat (tradisi). Klen adalah sistem sosial yang berdasarkan ikatan darah atau keturunan yang sama umumnya terjadi pada masyarakat unilateral.Pada Masyarakat Flores menganut klen atas dasar garis keturunan ayah (patrilineal) di mana klennya disebut Fam antara lain : Fernandes, Wangge, Da Costa, Leimena, Kleden, De- Rosari, Paeira.
Kelompok kekerabatan di Manggarai yang paling kecil dan yang berfungsi paling intensif sebagai kesatuan dalam kehidupan sehari-sehari di dalam rumah tangga atau di ladang dan kebun, adalah keluarga luas yang virilokal (kilo). Pada orang Ngada suatu keluarga luas virilokal serupa itu disebut sipopali
Sejumlah kilo biasanya merasakan diri terikat secara patrilineal sebagai keturunan dari seorang nenek moyang kira-kira lima sampai enam generasi ke atas. Suatu klen kecil atauminimal lineage memiliki beberapa nama lain, diManggarai disebut panga dan di Ngada disebut ilibhou.
Warga suatu panga atau ilibou tidak selau terikat oleh hubungan kekerabatan yang nyata. Hal itu karena sering sekali ada panga-panga atau ilibhou-ilibhou yang menjadi kecil, akibat kematian, manggabungkan diri dengan panga atau ilibhou yang lain. Suatu panga atau ilibhou dulu merupakan kesatuan dalam hal melakukan upacara-upacara berkabung atau upacara pembakaran mayat nenek moyang, atau upacara mendirikan batu tiang penghormatan roh nenek moyang. Sekarang kesatuan kekerabatan itu hampir tidak berfungsi lagi, kecuali sebagai pemberi nama kepada warga-warganya.
Panga dan ilibhou menjadi bagian dari klen-klen yang lebih besar, ialah wa’u di Manggarai dan woe di Ngada. Dulu wa’u an woe membanggakan diri akan adanya suatu complex unsur-unsur adat istiadat dan sistem upacara yang khas, yang saling pantang bagi yang lain, sedangkan banyak diantara wa’u-wa’u atau woe-woe yang terkenal ada yang memiliki lambang binatang atau totem yang mereka junjung tinggi. Sekarang sebagian besar dari unsur-unsur adat istiadat, upacara-upacara dan lambang-lambang totem yang khusus itu sudah hilang atau dilupakan
Masyarakat Ngada terdiri dari empat kesatuan adat (kelompok etnis) yang memiliki pelbagai tanda-tanda kesatuan yang berbeda. Kesatuan adat tersebut adalah : (1) Nagekeo, (2) Ngada, (3) Riung, (4) Soa. Masing-masing kesatuan adat mempertahankan ciri kekerabatannya dengan mendukung semacam tanda kesatuan mereka. Arti keluarga kekerabatan dalam masyarakat Ngada umumnya selain terdekat dalam bentuk keluarga inti Sao maka keluarga yang lebih luas satu simbol dalam pemersatu (satu Peo, satu Ngadhu, dan Bagha).
Ikatan nama membawa hak-hak dan kewajiban tertentu. Contoh setiap anggota kekerabatan dari kesatuan adat istiadat harus taat kepada kepala suku, terutama atas tanah. Setiap masyarakat pendukung mempunyai sebuah rumah pokok (rumah adat) dengan seorang yang mengepalai bagian pangkal Ngadhu ulu Sao Saka puu.

Suku Ngadha mengenal beberapa kelompok kekerabatan dari yang terkecil berupa keluarga inti sampai pada kelompok klen besar. Pembagian kelas pada struktur masyarakatnya hampir sama sebagaimana masyarakat lain di tanah air. Penggolongan suku Ngadha berdasarkan keluarga batih ( primary family ) yang terdiri dari ayah,ibu, anak-anak yang belum menikah disebut dengan sa"o.
Beberapa keluarga inti membentuk keluarga gabungan yang disebut sippopali. Sippopali (kesatuan keluarga) terdiri dari satu rumah pokok (sao puu) dan didampingi oleh rumah cabang (sao dhoro) yang berasal dari rumah pokok. Dikarenakan keterkaitan dengan sistem kekerabatan patrilineal, beberapa sippopali membentuk klen kecil (illibhou) dari klen besar yang dipimpin oleh seorang pemimpin dengan status ulu woe.
Pola pemukiman masyarakat baik di Ende maupun Lio umumnya pada mula dari keluarga batih/inti baba (bapak), ine (mama) dan ana (anak-anak) kemudian diperluas sesudah menikah maka anak laki-laki tetap bermukim di rumah induk ataupun sekitar rumah induk. Rumah sendiri umumnya secara tradisional terbuat dari bambu beratap daun rumbia maupun alang-alang.
Pada masyarakat manggarai, pembentukan keluarga batih terdiri dari bapak, mama dan anak-anak yang disebut Cak Kilo. Perluasan Cak Kilo membentuk klen kecil Kilo, kemudian klen sedang Panga dan klen besar Wau.
Beberapa istilah yang dikenal dalam sistem kekerabatan Manggarai antara lain Wae Tua (turunan dari kakak), Wae Koe (turunan dari adik), Ana Rona (turunan keluarga mama), Ana Wina (turunan keluarga saudara perempuan), Amang (saudara lelaki mama), Inang (saudara perempuan bapak), Ema Koe (adik dari bapak), Ema Tua (kakak dari bapak), Ende Koe (adik dari mama), Ende Tua (kakak dari mama), Ema (bapak), Ende (mama), Kae (kakak), Ase (adik), Nana (saudara lelaki), dan Enu (saudara wanita atau istri).


























C. SISTEM KEMASYARAKATAN
Dalam masyarakat sub-sub suku bangsa di flores yang kuno ada suatu sistem strafikasi sosial kuno, yang terdiri dari tiga lapisan. Dasar dari pelapisan itu ialah keturunan dari klen-klen yang dianggap mempunyai sifat keaslian atau asas senioritet. Biasanya ada tiga lapisan sosial. Pada orang manggarai misalnya ada lapisan orang kraeng, lapisan orang ata ehe dan lapisan orang budak. Pada orang Ngada misalnya ada lapisan orang gae meze, lapisan orang gae kisa dan juga lapisan orang budak (azi ana).
Lapisan kraeng dan gae meze, adalah lapisan orang bangsawan yang secara khusus terbagi lagi dalam beberapa sub lapisan, tergantung kepada sifat keaslian dari klen-klen tertentu, yang dianggap secara historis atau menurut dongeng-dongeng mitodologi, telah menduduki suatu daerah tertentu lebih dahulu dari klen-klen yang lain. Demikian warga dari klen-klen yang berkuasa dalam dalu-dalu atau glaring-glarang, pada orang Manggarai, termasuk lapisan kraeng.
Lapisan ata leke dan gae kisa adalah lapisan orang biasa, bukan keturunan orang-orang senior. Orang ata lekebiasanya bekerja sebagai petani, tukang-tukang atau pedagang, walau banyak dari orang bangsawan ada juga yang dalam kehidupan sehari-hari juga hanya menjadi saja. Lapisan budak, yang sekarang tentu sudah tidak ada lagi, adalah dulu
1. orang-orang yang ditangkap dalam peperanagn, baik dari sub suku bangsa sendiri, maupun dari suku bangsa lain atau pulau lain
2. kecuali itu orang-orang yang mempunyai hutang dan tidak mampu membayar lagi hutang mereka
3. dan akhirnya orang-orang yang dijatuhi hukuman untuk menjadi budak, karena pelanggaran adat.
Secara lahir perbedaan antara gaya hidup dari warga lapisan-lapisan sosial itu tidak ada, tetapi dalam sopan santun pergaulan antara mereka ada perbedaan, sedangkan para bangsawan pun mempunyai hak-hak tertentu dalam upacara-upacara adat.
Pada masa sekarang pendidikan sekolah telah menyebabakan timbulnya suatu lapisan sosial baru, yang terdiri dari orang-orang pegawai, guru, atau pendeta, sedangkan akhir-akhir ini ada pula beberapa putra flores dengan pendidikan universitas yang tergolong lapisan sosial yang baru itu. Di sini prinsip-prinsip stratifikasi sosial yang bersifat nasional, mulai mempengaruhi stratifikasi sosial di daerah.
Sistem kemasyarakatan masing-masing etnis di Flores pada dasarnya hampir sama, hanya beberapa hal saja dan istilahnya saja yang berbeda.
 Flores Timur
Orang yang berasal dari Flores Timur sering disebut orang Lamaholot, karena bahasa yang digunakan bahasa suku Lamaholot.
Pelapisan sosial masyarakat tergantung pada awal mula kedatangan penduduk pertama, karena itu dikenal adanya tuan tanah yang memutuskan segala sesuatu, membagi tanah kepada suku Mehen yang tiba kemudian, disusul suku Ketawo yang memperoleh hak tinggal dan mengolah tanah dari suku Mehen.
 Sikka
Konon nama Sikka berasal dari nama suatu tempat dikawasan Indocina. Sikka dan dari sinilah kemungkinan bermula orang berimigrasi kewilayah nusantara menuju ke timur dan menetap disebuah desa pantai selatan yakni Sikka. Nama ini Kemudian menjadi pemukiman pertama penduduk asli Sikka di kecamatan Lela sekarang. Turunan ini bakal menjadi tuan tanah di wilayah ini.
Pelapisan sosial dari masyarakat Sikka. Lapisan atas disebut sebagai Ine Gete Ama Gahar yang terdiri para raja dan bangsawan. Tanda umum pelapisan itu di zaman dahulu ialah memiliki warisan pemerintahan tradisional kemasyarakatan, di samping pemilikan harta warisa keluarga maupun nenek moyangnya.
Lapisan kedua ialah Ata Rinung dengan ciri pelapisan melaksanakan fungsi bantuan terhadap para bangsawan dan melanjutkan semua amanat terhadap masyarakat biasa/orang kebanyakan umumnya yang dikenal sebagai lapisan ketiga yakni Mepu atau Maha.
Secara umum masyarakat kabupaten Sikka terinci atas beberapa nama suku;
(1) ata Sikka
(2) ata Krowe
(3) ata Tana ai
(4) suku-suku pendatang yaitu:
(a) ata Goan
(b) ata Lua
(c) ata Lio
(d) ata Ende
(e) ata Sina
(f) ata Sabu/Rote
(g) ata Bura.
 Ende
Nama Ende sendiri konon ada yang menyebutkannya sebagai Endeh, Nusa Ende, atau dalam literatur kuno menyebut Inde atau Ynde. Ada dugaan yang kuat bahwa nama itu mungkin sekali diberikan sekitar abad ke-14 pada waktu orang-orang malayu memperdagangkan tenunan besar nan mahal yakni Tjindai sejenis sarung patola dalam pelayaran perdagangan mereka ke Ende.
Ende/Lio sering disebut dalam satu kesatuan nama yang tidak dapat dipisahkan. Meskipun demikian sikap ego dalam menyebutkan diri sendiri seperti : Jao Ata Ende atau Aku ata Lio dapat menunjukan sebenarnya ada batas-batas yang jelas antara ciri khas kedua sebutan itu.
Meskipun secara administrasi masyarakat yang disebut Ende/Lio bermukim dalam batas yang jelas seperti tersebut di atas tetapi dalam kenyataan wilayah kebudayaan (teritorial kultur) nampaknya lebih luas Lio dari pada Ende.
Lapisan bangsawan masyarakat Lio disebut Mosalaki ria bewa, lapisan bangawan menengah disebut Mosalaki puu dan Tuke sani untuk masyarakat biasa. Sedangkan masyarakat Ende bangsawan disebut Ata NggaE, turunan raja Ata Nggae Mere, lapisan menegah disebut Ata Hoo dan budak dati Ata Hoo disebut Hoo Tai Manu.
 Ngada
Pelapisan sosial masyarakat Ngada meliputi pelapisan teratas disebut Ata Gae, lapisan menengah disebut Gae Kisa, dan pelapisan terbawah disebut Ata Hoo. Sumber lain menyebutkan pelapisan sosial biasa dibagi atas tiga, Gae (bangsawan), Gae Kisa = kuju, dan golongan rendah (budak). Ada pula yang membagi atas empat strata, Gae (bangsawan pertama), Pati (bangsawan kedua) Baja (bangsawan ketiga), dan Bheku (bangsawan keempat).
Para istri dari setiap pelapisan terutama pelapisan atas dan menengah disebut saja Inegae/Finegae dengan tugas utama menjadi kepala rumah yang memutuskan segala sesuatu di rumah mulai pemasukan dan pengeluaran.
 Manggarai
Sub suku bangsa Manggarai telah mengenal suatu sistem organisasi kenegaraan sejak lama yaitu sejak abad ke-17 ketika kerajaan Bima dari Sumbawa Timur menguasai bagian utara dari Flores Barat. Pegawai-pegawai Bima di Reo ialah pusat kekuasaan kerajaan Bima di Flores Barat telah menulis laporan-laporan tentang wilayah Bima di Flores tersebut dalam bahasa Melayu. Dari tulisan-tulisan tersebut kita ketahui bahwa ada suatu kerajaan pribumi Manggarai yang berpusat di daerah Cibal di bagian tengah dari Flores Barat.
Dari tulisan-tulisan tersebut kita juga mengetahui bahwa sekitar 1666 orang Makasar mencoba menguasai bagian selatan dari Flores Barat. Penduduk bagian selatan ini katanya sudah banyak yang beragama Islam, hasil usaha penyiaran agama itu oleh imigran-imigran dari Minangkabau. Tahun 1762 kerajaan Bima berhasil juga menguasai Manggarai Selatan dan mengusir orang Makasar bahkan dalam tahun-tahun sesudah itu orang Bima juga berhasil menguasai kerajaan Manggarai asli yang berpusat di Cibal. Namun rupa-rupanya kerajaan Manggarai itu tidak pernah menjadi negara jajahan dari negara Bima.
Pada permulaan abad ke-19, pengaruh dan kekuasaan orang Bima di Flores Barat mengalami kemunduran akibat bencana alam hebat yang dialami oleh orang Sumbawa yaitu berupa peledakan Gunung Tambora dalam tahun 1815. orang Manggarai memberontak melawan Bima dan dengan bantuan orang Belanda, mereka berhasil menguasai semua orang Bima dari Flores Barat. Pada permulaan abad ke-20 dalam tahun 1907, Manggarai dijadikan suatu daerah jajahan dan bagian dari Hindia Belanda.
Strata masyarakat Manggarai terdiri atas 3 golongan, kelas pertama disebut Kraeng (Raja/bangsawan), kelas kedua Gelarang ( kelas menengah), dan golongan ketiga Lengge (rakyat jelata).
Raja mempunyai kekuasaan yang absolut, upeti yang tidak dapat dibayar oleh rakyat diharuskan bekerja rodi. Kaum Gelarang bertugas memungut upeti dari Lengge (rakyat jelata).
Kaum Gelarang ini merupakan penjaga tanah raja dan sebagai kaum penyambung lidah antara golongan Kraeng dengan Lengge. Status Lengge adalah status yang selalu terancam. Kelompok ini harus selalu bayar pajak, pekerja rodi, dan berkemungkinan besar menjadi hamba sahaya yang sewaktu-waktu dapat dibawah ke Bima dan sangat kecil sekali dapat kembali melihat tempat kelahirannya.














D. POLA PERKAMPUNGAN
Pola perkampungan dari desa-desa kuno itu biasanya merupakan suatu lingkaran dengan tiga bagian, yaitu depan, tengah, belakang. Desa-desa di Flores ( Beo di Manggarai) , dulu biasanya dibangun di atas bukit-bukit untuk keperluan pertahanan dikelilingi dengan sebuah pagar dari bambu yang tingginya dua sampai tiga meter, sedangkan pagar itu seringkali dikelilingi secara padat dengan tubuh-tumbuhan belukar yang berduri.Akan tetapi pada masa sekarang sudah banyak desa-desa yang dibangun di daerah tanah datar di kaki bukit, sifatnya lebih terbuka , pagar sering tidak ada lagi , selain itu susunan kuno tersebut juga sudah sering tidak diperhatikan lagi.Beberapa daerah tertentu ada yang memiliki pola perkampungan dengan ciri khusus, sedangkan daerah lainnya dianggap memiliki pola perkampungan yang menyerupai daerah-daerah tersebut,antara lain:
 .Manggarai
Di Manggarai misalnya masih ada sebutan khusus untuk bagian depan dari desa adalah Pa’ang, bagian tengah ialahBeo (dalam arti khusus) dan bagian belakang adalah ngaung. Dulu tiap bagian dari rumah ada tempat-tempat keramat, yang merupakan timbunan-timbunan batu-batu besar dan yang dianggap tempat roh-roh penjaga desa dapat turun. Pada masa sekarang biasanya masih ada paling sedikit satu tempat keramat serupa di tengah-tengah lapangan tengah dari desa. Tempat keramat itu biasanya berupa suatu timbunan batu-batu besar yang disusun seperti piramida bertangga dengan beberapa batu pipih tesusun seperti meja di puncaknya. Seluruh timbunan itu yang disebut kota , dinaungi oleh suatu pohon waringin yang besar. Di hadapan himpunan batu itu biasanya ada banguna balai desa yang bersifat keramat dan yang disebut mbaru gendang, kaena didalamnya disimpan sebuah genderang yang keramat.
Di Manggarai, rumah kuno berbentuk lingkaran di atas tiang-tiang yang yang tingginya kira-kira satu meter. Atapnya yang dibuat dari lapisan-lapisan ikatan-ikatan jerami itu, berbentuk kerucut yng menjulang tinggi, kadamg-kadang sampai lebih dari lima meter di atas tanah. Ruang di bawah lantai, di kolong rumah dipakai untuk tempat menyimpan alat-alat pertanian dan sebagai tempat ternak seperti babi,kambing,domba dan ayam. Tingkat tengah adalah tempat manusia, sedangkan tingkat atap dianggap bagian yang keramat dari rumah tempat untuk roh-roh, maka di situ disimpan benda-benda keramat dan pusaka, tetapi juga bahan makanan . pada masa sekarang rumah beratap kerucut tinggi itu juga sudah hamper hilang. Orang Manggarai membangun rumah-rumah persegi di atas tiang,dari aneka warna gaya yang di contoh dari lain-lain tempat di Indonesia, sehingga tidak ada lagi bentuk rumah Manggarai yang khas.
 Ngada
Masyarakat Ngada merupakan salah satu suku bangsa yang mendiami satu wilayah di kabupaten Ngada, Flores Tengah, provinsi Nusa Tenggara Timur, tepatnya berada di sekitar gunung Inerie dan di dataran tinggi Bajawa. Suku Ngada merupakan salah satu suku terbesar diantara suku-suku lain yang ada di Flores Tengah. Kehidupan masyarakat suku Ngada di perkampungan Wogo, Bajawa sampai saat ini masih melakukan kegiatan yang bisa dikategorikan menjalani tradisi megalitik ( living megalithic tradition ). Pada perkampungan Ngada di desa Wogo Bajawa ini terdapat peninggalan-peninggalan megalitik maupun bangunan-bangunan yang berakar pada penghormatan nenek moyang.
Penempatan beberapa perkampungan suku Ngadha merupakan refleksi aktivitas masyarakat suku ngadha akibat dari pemanfaatan lingkungan alam itu sendiri misalnya pemanfaatan lahan perbukitan sebagai lahan pertanian, oleh karena pertimbangan lahan tersebut subur akibat struktur tanah alluvial, disamping itu penduduk Wogo masa sekarang banyak yang
menanami lahannya dengan beraneka macam tananam perkebunan dan tanaman pertanian. Hal ini nampak dari adanya tempat tempat menyimpan hasil-hasil pertanian yang ada di dalam rumah maupun mendirikan gubuk-gubuk kecil di luar rumah hunian biasanya didirikan di belakang rumah. Kedekatan dengan hutan sebagai habitat beberapa binatang buruan yang banyak hidup di sana bisa dimanfaatkan sebagai sumber makanan masyarakat. Dengan adanya hasil hutan rakyat ini berbagai hasil kayunya dapat dimanfaatkan untuk membangun rumah, mendirikan sarana upacara ataupun tiang-tiang bambunya digunakan sebagai sarana mengambil air atau memasak nasi dan beras ketan pada saat diadakannya upacara adat tertentu.
Hubungannya landskap dengan pemukiman suku Ngada di perkampungan Wogo ini karena tersedianya bentang lahan yang memadai dalam kaitannya dengan ritus-ritus upacara pertanian atau kematian ataupun perburuan yang mempergunakan jenis-jenis batuan ini untuk sarana upacara tersebut seperti mata uma yaitu sekelompok batu menhir yang digunakan untuk upcara pertanian, kemudian dalam hal pengelolaan hasil pertanian, diambil dari batuan andesit - basalt, watu lanu berupa sekelompok batu tegak dan dolmen yang difungsikan untuk upacara perburuan, sarana penguburan juga mempergunakan batu andesit basalt demikian juga tampak pada pendirian batu - batu tegak sebagai batas perkampungan, dan sebagainya.
Pola perkampungan orang Ngada berkelompok dalam keluarga besar dalam rumah-rumah panggung berukuran besar, mengelilingi lapangan luas berbentuk persegi panjang (kisanata). Lapangan tersebut sekaligus berfungsi sebagai areal upacara, permusyawaratan pemuka adat, pengadilan dan sebagainya. Salah satu sisi lebar dari lapangan itu, biasanya didirikan nga'dhu dan bhaha. Nga'dhu adalah simbolisasi / personifikasi laki-laki yang biasanya berujud tiang berukir dan diduga kuat bahwa Nga'dhu merupakan transformasi menhir yang biasanya dibuat dari batu. Sementara itu, bhaha merupakan simbolisasi/ personifikasi perempuan yang diujudkan dalam monumen berupa bangunan miniatur rumah.


Hubungan kekerabatan terlihat pada perkampungannya.
 Ende-Lio
Pola perkampungan dan bentuk rumah adat tradisional bagi masyarakat Ende-Lio dibangun selalu berkaitan dengan konsep hubungan kekerabatan (Gemen scap), antisipasi terhadap alam lingkungannya dan hubungannya dengan pencipta alam semesta yang dipercayanya. Hal ini dapat dilihat dari acara ritual yang dilakukan di saat membangun rumah adat dan perkampungan tradisional yang masih ada dan berlaku di masyarakat adat termasuk acara seremonial lainnya hingga
 sekarang. hingga sekarang.
Contoh Perkampungan Adat Mole
Dalam pembangunan rumah adat dan perkampungan tradisional, pola pemukimannya ditata mengikuti prinsip LINTAS ORBIT TATA SURYA. Setiap kampung adat tradisional memiliki kedudukan dan peran masing-masing, khususnya terhadap tempat dan kedudukan dengan kampung asal. Sedangkan bentuk rumahnya mengikuti budaya perahu.
Lihatlah Bentuk dan Pola Perkampungan Ende Lio
Berdasarkan struktur dan pola perkampungan tradisional Ende-Lio memiliki tiga kategori yaitu; Kampung asal (Nua Pu’u); kampung ranting (Kuwu Ria) atau gubuk besar, kampung kecil (kopo kasa) yaitu tempat kediaman di luar kampung asal dengan jumlah penghuni yang kurang. Kuwu ria dan Kopo Kasa wajib mengakui wewenang Religi dan magis/ Ritual pada Nua Pu’u dan wajib melaksanakan perintah yang berasal dari penguasa adat/ Mosalaki di kampung asal (Nua Pu’u). Salah satu pola perkampungan adat yang masih terlihat utuh dapat dilihat di desa Wologai, Kec. Detusoko dimana nampak jelas pola perkampungan dan tata letak bangunan didalamnya. Sebagai bagian yang tidak terpisahkan keberadaannya dalam kampung tradisional, di dalamnya dibangun berbagai b
angunan sesuai kedudukan dan fungsinya. Komponen Pendukung Bangunan-bangunan inilah yang terdiri dari Tubu, Musu, Kangga, Keda, Kuburan dan berbagai aksesoris untuk melengkapi sebuah seremonial kehidupan adat Masyarakat tradisional Ende Lio.
Sebagai bagian yang tidak terpisahkan keberadaannya dalam kampung tradisional, di dalamnya dibangun berbagai bangunan sesuai kedudukan dan fungsinya. Komponen Pendukung Bangunan-bangunan inilah yang terdiri dari Tubu, Musu, Kangga, Keda, Kuburan dan berbagai aksesoris untuk melengkapi sebuah seremonial kehidupan adat Masyarakat tradisional Ende Lio.












E. RELIGI
Keyakinan (religi) terhadap 'Yang Maha Tinggi' merupakan unsur maha penting dalam berbagai kehidupan sehari-hari. Mulai dari bercocok tanam (berladang) hingga perkawinan.
Kristianitas, khususnya Katolik, sudah dikenal penduduk Pulau Flores sejak abad ke-16. Tahun 1556 Portugis tiba pertama kali di Solor. Tahun 1561 Uskup Malaka mengirim empat misionaris Dominikan untuk mendirikan misi permanen di sana. Tahun 1566 Pastor Antonio da Cruz membangun sebuah benteng di Solor dan sebuah Seminari di dekat kota Larantuka. Tahun 1577 saja sudah ada sekitar 50.000 orang Katolik di Flores (Pinto, 2000: 33-37). Kemudian tahun 1641 terjadi migrasi besar-besaran penduduk Melayu Kristen ke Larantuka ketika Portugis ditaklukkan Belanda di Malaka. Sejak itulah kebanyakan penduduk Flores mulai mengenal kristianitas, dimulai dari Pulau Solor dan Larantuka di Flores Timur kemudian menyebar ke seluruh daratan Flores dan Timor. Dengan demikian, berbeda dari penduduk di daerah-daerah lain di Indonesia, mayoritas masyarakat Pulau Flores memeluk agama Katolik.
Meskipun kristianitas sudah dikenal sejak permulaan abad ke-16, kehidupan keagamaan di Pulau Flores memiliki pelbagai kekhasan. Bagaimanapun, hidup beragama di Flores –sebagaimana juga di berbagai daerah lainnya di Nusantara (lihat Muskens, 1978)-- sangat diwarnai oleh unsur-unsur kultural yaitu pola tradisi asli warisan nenek-moyang. Di samping itu, unsur-unsur historis, yakni tradisi-tradisi luar yang masuk melalui para misionaris turut berperan pula dalam kehidupan masyarakat. Kedua unsur ini diberi bentuk oleh sistem kebudayaan Flores sehingga Vatter (1984: 38) menilai di beberapa tempat di Flores ada semacam percampuran yang aneh antara Kristianitas dan kekafiran.
Untuk dapat mengenal secara singkat gambaran agama-agama di Flores, Tabel 1 mendeskripsikan 'wujud tertinggi' orang Flores. Tabel itu menunjukkan bahwa orang Flores memiliki kepercayaan tradisional pada Dewa Matahari-Bulan-Bumi. Kepercayaan yang bersifat astral dan kosmologis ini berasal dari pengalaman hidup mereka yang agraris, yang hidup dari kebaikan langit (hujan) dan bumi (tanaman) (Fernandez, 1990). Lahan pertanian yang cenderung tandus membuat orang Flores sungguh-sungguh berharap pada penyelenggaraan Dewa Langit dan Dewi Bumi.









Tabel 1 Wujud Tertinggi Orang Flores
NO
KABUPATEN
WUJUD TERTINGGI
MAKNA
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Flores Timur
Lembata
Sikka
Ende/Lio
Ngadha
Manggarai
Lera Wulan Tanah Ekan
Lera Wulan Tanah Ekan
Ina Niang Tana Wawa// Ama Lero Wulang Reta
Wula Leja Tana Watu
Deva zeta-Nitu zale
Mori Kraeng, bergelar: Tana wa awang eta//Ine wa ema eta
Matahari-Bulan-Bumi
Matahari-Bulan-Bumi
Bumi-Matahari-Bulan
Bulan-Matahari-Bumi
Langit-Bumi
Tanah di bawah, langit di atas
Selain itu, hampir semua etnis masyarakat Flores memiliki tempat-tempat pemujaan tertentu, lengkap dengan altar pemujaannya yang melambangkan hubungan antara alam manusia dengan alam ilahi. Tabel 2 menunjukkan altar tempat upacara ritual orang Flores.
Tabel 2 Altar/Tempat Pemujaan Orang Flores
NO
KABUPATEN
NAMA TEMPAT
KETERANGAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Flores Timur
Lembata
Sikka
Ende/Lio
Ngadha
Manggarai
Nuba Nara [1]
Nuba Nara
Watu Make
Watu Boo
Vatu Leva - Vatu Meze
Compang – Lodok
Menhir dan Dolmen
Menhir dan Dolmen
Menhir dan Dolmen
Dolmen
Menhir dan Dolmen
Menhir
Altar yang disebutkan dalam Tabel 2 di atas merupakan tempat dilaksanakannya persembahan hewan korban dalam upacara ritual formal, misalnya: upacara panen, pembabatan hutan, pendirian rumah, perkawinan adat, dan sebagainya. Upacara ritual itu sendiri menduduki posisi penting sebagai sarana pembentukan kohesi sosial dan legitimasi status sosial. Ritual persembahan di altar tradisional itu mempengaruhi berbagai struktur dan proses sosial di Flores.

Sedangkan di masyarakat Ngada, ditemukan beberapa menhir. Fungsi menhir ini sebagai petunjuk kubur dan pada batu tersebut diabadikan nama – nama mereka yang menunjukkan sekumpulan menhir yang berasosiasi dengan dolmen. Di samping itu fungsi menhir juga digunakan sebagai tanda jumlah musuh yang terbunuh dalam peperangan. Keberadaan bangunan-bangunan pemujaan sangatlah terkait dengan kehidupan religi dan kepercayaan masyarakat Ngada walaupun pada umumnya masyarakat Ngada pada waktu sekarang sebagian besar memeluk agama Katolik. Dengan masuknya ajaran Katolik yang membawa pengaruh pada kehidupan religi mereka, terjadilah akulturasi budaya tanpa meninggalkan dogmatis ajaran Katolik. Kepercayaan terhadap gunung sebagai tempat suci dimana bersemayam arwah nenek moyang, direfleksikan dengan adanya bangunan berundak, tetapi pada saat ini adanya akulturasi budaya yang tercermin dari arah hadap tanda salib pada kubur orang katolik yang memperlihatkan kearah gunung.
Agama islam di Flores termasuk minoritas dalam hal jumlahnya dan terbagi atas
1. Komunitas Islam asli Flores.
Latar belakang mereka yaitu sama-sama penduduk bumiputra yang mula-mula menganut ‘agama asli’ atau meminjam istilah Bung Karno ‘orang kafir’. Dalam buku sejarah, agama asli biasa disebut animisme-dinamisme. Ketika datang agama baru, baik Katolik atau Islam, penduduk mulai konversi alias pindah agama. Agama asli identik dengan kekolotan atau primitivisme karena terkait erat dengan dukun-dukun serta kepercayaan alam gaib yang sulit diterima di alam moderen.
Karena sama-sama asli Lembata, Adonara, Solor, Flores Timur daratan, jemaat Islam ini benar-benar menyatu dengan umat Katolik atau penganut agama asli. Sama-sama diikat oleh adat, budaya, serta keturunan yang sama. Kalau diusut-usut, golongan ini punya hubungan darah yang sangat erat.
2. Komunitas Islam pesisir.
Mereka ini campuran antara pendatang dan penduduk asli yang sudah bercampur-baur secara turun-temurun. Disebut pesisir karena tinggalnya di pesisir, bekerja sebagai nelayan ulung. Selain itu, mereka pedagang ‘papalele’ hingga pedagang besar.
Mereka menganut Islam berkat dakwah para pedagang atau pelaut Sulawesi, Sumatera, Jawa, Sumbawa. Ada juga nelayan Sulawesi yang akhirnya menetap di Flores karena kerap bertualang di laut. Ada tanah kosong di pinggir laut, lantas mereka mendirikan rumah di tempat tersebut. Akhirnya, muncul banyak kampung-kampung khusus Islam di beberapa pesisir Flores Timur.
Berbeda dengan Islam jenis pertama (asli Flores), golongan kedua ini benar-benar pelaut sejati. Di beberapa tempat, rumah mereka bahkan dibuat di atas laut. Karena tak punya tanah, namanya juga pendatang, mereka tidak bisa bertani. Kerjanya hanya mengandalkan hasil laut, tangkap ikan, serta berdagang.
Maka, komunitas Islam pesisir ini sangat solid dan homogen di pesisir. Kampung Lamahala di Adonara Timur dan Lamakera di Solor Timur merupakan contoh kampung Islam pesisir khas Flores Timur. Di Kampung Baru serta sebagian Postoh (Kota Larantuka) pun ada kampung khusus Islam pesisir.
Mereka ini menggunakan bahasa daerah Flores Timur, namanya Bahasa LAMAHOLOT, dengan dialek sangat khas. Perempuannya cantik-cantik, rambut lurus, karena itu tadi, nenek moyangnya dari Sulawesi, Sumatera, Jawa. Tapi ada juga yang agak hitam, sedikit keriting, karena menikah dengan penduduk asli yang masuk Islam.
Karena tinggal di pantai (bahasa daerahnya: WATAN), di Flores Timur umat Islam disebut WATANEN alias orang pantai. Sebaliknya, orang Katolik disebut KIWANEN, dari kata KIWAN alias gunung. WATANEN mencari ikan, KIWANEN bertani, hasilnya bisa barter untuk mencukupi kebutuhan orang Flores Timur. Jadi, kedua kelompok ini, WATANEN-KIWANEN tak bisa dipisahkan meskipun berbeda agama.
Selain itu, pasar-pasar Inpres di Flores Timur hampir dikuasai secara mutlak oleh muslim pesisir. Mereka juga punya banyak armada kapal laut antarpulau yang menghubungkan pulau-pulau di Flores Timur, Nusatenggara Timur, bahkan Indonesia.
3. Komunitas Islam pendatang baru.
Berbeda dengan komunitas pertama dan kedua, komunitas ketiga ini pendatang baru dalam arti sebenarnya. Mereka datang, bekerja, dan menetap di Flores Timur, menyusul gerakan transmigrasi pada era 1970, 1980 dan seterusnya sampai sekarang. Ada juga yang pegawai negeri sipil, pegawai swasta, profesional yang bekerja di Flores.
Mereka tidak memiliki kampung seperti muslim asli dan muslim pesisir. Kampungnya di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan seterusnya. Komunitas ketiga ini juga tak bisa berbahasa daerah seperti orang Lamahala atau Lamakera. Bahasanya antara lain: bahasa Jawa, bahasa Betawi, bahasa Padang, dan seterusnya. Komunikasi dengan penduduk lokal, tentu saja, dengan bahasa Indonesia.
Namun, berbeda dengan Islam pesisir (WATANEN) yang hanya tinggal di kampung-kampung khusus Islam, muslim pendatang baru ini sangat fleksibel. Mereka bisa tinggal di mana saja: kampung Islam, kampung Katolik, pantai, pegunungan, pelosok, kota. Luar biasa luwes.
Dokter Puskesmas (PTT), guru-guru SMA/SMP negeri, tentara, polisi, asal Jawa dikenal sebagai muslim pendatang yang sangat luwes.
Zaman makin maju. Orang Flores merantau ke mana-mana. Sehingga, tentu saja, komposisi masyarakat akan terus berubah, termasuk tiga jenis Islam di Flores ini.
Meskipun demikian penduduk yang sudah memeluk agama, masih percaya kepada dewa-dewa. Dewa tersebut namanya berlainan di setiap daerah, misalnya di Tetum dikenal dengan nama Hot Esen atau Maromak, di Manggarai dengan nama Mori Kraeng, di Dawan dengan nama Uis Nemo, dan di Sikka dikenal dengan nama Niang Tana Lero Wulan.

 Di daerah Sabu dewa tertinggi sesuai dengan fungsinya dibagi menjadi tiga yaitu:
(1) Deo Wie yaitu Deo pengatur dan pemelihara segala yang diciptakan
(2) Deo Weru atau Pamugi yaitu Deo pencipta alam
(3) Deo menggarru yaitu Deo pengatur keturunan makhluk di dunia.
Masyarakat daerah Nusa Tenggara Timur juga mengenal makhluk halus yang baik dan bersifat jahat. Makhluk halus yang baik tentu dari nenek moyang antara lain Embu Mamo di Ende, Naga Golo atau Peo di Manggarai sedangkan makhluk halus yang bersifat jelek yang merugikan orang seperti Fenggeree di Ende, Wango Madera Ai di Sabu dan sebagainya. Kepercayaan Dinamisme juga berkembang di Flores yaitu menganggap sesuatu benda mempunyai kekuatan gaib.
Walaupun agama sudah masuk ke wilayah ini sejak abad 16 dan 17 dan terus berkembang sampai sekarang namun faktor kepercayaan asli masih belum hilang di kalangan penduduk, terutama yang tinggal di pedalaman. Kepercayaan di daerah ini erat hubungannya dengan kultus pertanian dan arwah nenek moyang. Dengan hubungannya kepercayaan baru dan agama baru di samping kepercayaaan tradisional, sering timbul dulisme, disatu pihak berdasarkan agama yang dianut, di lain pihak didasari kepercayaan tradisional di dalam upacara-upacara yang dilaksanakan.








F UPACARA ADAT
Upacara adat yang ada di wilayah Nusa Tenggara Timur sangatlah beragam dimana masing-masing suku memiliki caranya masing-masing, upacara adat tersebut terdiri dari upacara perkawinan, upacara menyambut datangnya panen, upacara pemanggilan hujan dan lain-lain.
1. Upacara Kelahiran
Kelahiran Pada masa kehamilan di Tetum, merupakan upacara yang bertujuan agar si ibu tetap sehat dan tidak dianggap roh jahat disebut upacara Keti Kebas Metan (mengikat dengan tali benang kitan). Pada peristiwa kelahiran, dukun beranak memegang peranan penting pada peristiwa tersebut ada dua upcara yang penting yaitu pengurusan ari-ari dan pemberian nama bayi.
2. Upacara Menjelang dewasa
Masa Remaja Setelah anak menjelang dewasa biasanya diadakan serangkaian upacara yaitu cukuran rambut pada masa anak-anak dan sunat bagi laki dan potong gigi untuk wanita yang biasa disebut Koa Ngll. Koa Ngll merupakan upacara potong gigi massal untuk gadis memasuki usia remaja. Upacara ini menandakan gadis-gadis yang telah mengikuti upacara ini telah dewasa dan boleh dipinang untuk membangun rumah tangga.
3. Upacara Perkawinan
Secara umum, dalam prosesi perkawinan, setelah ada pesuntingan kedua belah pihak, dilanjutkan melalui beberapa tahap, yaitu penukaran, pembayaran belis, dan upacara perkawinan itu sendiri. Pada waktu meminang diperlukan petugas peminang yang disebut Wuna (Wunang), di Sabu disebut Mone Opo Li atas Mone dan di dawan. Belis (maskawin) Setelah pinangan diterima dilanjutkan dengan tahap kedua yaitu Belis (maskawin). Hal ini merupakan hal penting dari lembaga perkawinan, karena dianggap sebagai Na Buah Ma An Mone (suatu simbol untuk menyerahkan laki dan perempuan sebagai suami istri). Jenis-jenis Belis meliputi emas, perak, uang dan hewan. Di Flores Timur dan Maumere (Sikka), mas kawinnya berupa Gading Gajah.
Pemberian mas kawin berupa gading gajah di Pulau Adonara sekarang ini masih dipraktikkan secara ketat. Tidak ada perkawinan tanpa gading. Batang gading itu tidak hanya memiliki nilai adat, tetapi juga kekerabatan, harga diri perempuan, dan nilai ekonomis yang tinggi.

4.UpacaraKematian

Upacara Kematian Menurut kepercayaan mereka kematian adalah berpindahnya dari dunia ramai kekehidupan gaib. Untuk pesta kematian ini dikorbankan sajian berpuluh puluh ekor sapi, kerbau dan babi Rangkaian upacara meliputi beberapa tahap : Adat meratap, yaitu menangis dimuka mayat yang dilakukan oleh wanita. Adat memakan mayat, yaitu memakan mayat selama beberapa hari sebelum dikubur. Merawat mayat, sebelum dikubur mayat dimandikan terlebih dahulu, kemudian diberi pakaian yang bagus atau pakaian kebesaran.

Upacara waktu penguburan, tempatnya didekat rumah, untuk laki disebelah barat dan perempuan disebelah timur. Upacara setelah penguburan, malam harinya diadakan pesta besar-besaran dengan membunyikan bunyi-bunyian dan tari-tarian.

5. Upacara Pembangunan Rumah

Dalam melaksanakan pembangunan rumah adat, pertama kali akan dilakukan musyawarah yang dipimpin oleh tetua adat untuk memperoleh kesepakatan. Sehari sebelum upacara pembangunan rumah dimulai, masyarakat melangsungkan upacara Maalaba yaitu penghormatan kepada tetua adat yang nantinya akan berperan dalam proses pembangunan rumah. Upacara ini dilanjutkan dengan acara makan bersama.


6. Upacara Penutupan Bulan Maria

Dalam upacara ini tampak patung Bunda Maria diarak di atas perahu kecil yang dipikul empat orang diiringi doa Rosario dan tarian khas Flores menuju gereja. Sebelum memasuki gereja, arak-arakan berhenti sejenak di tiap kabupaten, seperti Kabupaten Flores Timur, Ende, Bajawa, Manggarai, dan Maumere. Ini sebagai simbol umat yang disatukan oleh Tuhan dengan perantara Bunda Maria. Prosesi seperti ini biasa dilakukan umat Katolik di NTT.

7. Upacara Adat di Sampar

Upacara ini dilakukan di desa Sampar yang berkaitan dengan perayaan atas selesainya rumah adat yang baru yang juga bentuknya diilhami oleh sarang laba-laba. Perayaan ini dimeriahkan dengan Permainan kesenian yang disebut Caci, di mana 2 orang laki-laki akan saling berhadapan, seorang dengan senjata cambuk dari kulit kerbau akan berusaha memukul lawannya yang akan bertahan dengan menangkis menggunakan sebuah tameng kulit dan sebuah tongkat rotan.

8. Upacara Iyegerek

LamaleraLamalera, berhadapan dengan Laut Sawu, merupakan jalur migrasi paus. Dari 30 jenis cetacean–nama kolektif paus dan lumba-lumba di Indonesia– 14 spesies di antaranya bermigrasi melewati Sawu, yang memiliki palung. Termasuk di antaranya adalah paus biru dan paus sperm yang langka dan paus orca, yang oleh masyarakat setempat disebut menyebutnya seguni.


9. Takung

Takung (persembahan), yakni upacara persembahan hewan kurban bagi penunggu tanah agar memperlihatkan arwah para korban. Selain itu meminta kepada arwah korban untuk memperlihatkan dirinya agar mereka bisa dikuburkan sesuai adat. Upacara adapt ini dilakukan dengan menyembelih seekor kambing.

10. Upacara Giit Mendong

Inti upacara adat yang sering dilaksanakan dalam setiap perayaan kemasyarakatan di Kabupaten Sikka ini, yakni meminta kehadiran arwah nenek moyang masyarakat Sikka untuk merestui setiap perayaan yang dilakukan.

11. Tradisi Megalitik di Flores

Pulau Flores yang terdiri dari berbagai suku bangsa, mempunyai kekayaan sejarah dan budaya yang tinggi. Daerah ini menjadi obyek penelitian yang menarik bagi para etnolog dan arkeolog. Pulau Flores dan pulau-pulau kecil disekitarnya mulai dari ujung barat sampai ujung timur mengandung peninggala-peninggalan baik yang berujud budaya materil maupun nilai-nilai tradisi yang berakar sejak zaman dulu.


12. Nyale

Masyarakat Wanukaka yang menyelenggarakan nyale ini di awal bulan Maret, telah melakukan berbagai macam ritual dari jauh-jauh hari. Salah satunya dilakukan di rumah masing-masing, malam sebelum nyale.

Potong ayam dan membuat ketupat, salah satu ritual yang wajib dilaksanakan masyarakat Wanukaka. Seperti juga di salah satu rumah warga Kampung Ubu Bewi ini. Sebab ritual ini erat kaitannya dengan kegiatan Pasola. Sebagai pertanda, untuk melihat baik dan buruknya nasib seseorang yang akan ikut dalam Pasola.


13. Pasola

Pasola berasal dari kata `sola' atau `hola', yang berarti sejenis lembing kayu yang dipakai untuk saling melempar dari atas kuda yang sedang dipacu kencang oleh dua kelompok yang berlawanan. Setelah mendapat imbuhan `pa' (pa-sola, pa-hola), artinya menjadi permainan. Jadi pasola atau pahola berarti permainan ketangkasan saling melempar lembing kayu dari atas punggung kuda yang sedang dipacu kencang antara dua kelompok yang berlawanan. Pasola dilaksanakan di bentangan padang luas, disaksikan oleh segenap warga Kabisu dan Paraingu dari kedua kelompok yang bertanding dan oleh masyarakat umum.
14. Etu

Etu adalah sebutan dalam etnis Nagekeo / Sagi adalah sebutan dalam suku Ngadha merupakan atraksi tinju tradisional dengan manampilkan jago-jago dari kampung masing-masing untuk mengadu kekuatan dan ketangkasan masing-masing peserta. Atraksi ini berlangsung dalam arena yang dibuat di tengah kampung. Tiga hari sebelum pertandingan diadakan ritual adat memohon kekuatan untuk peserta tinju.

15. Toalako

Toalako merupakan kegiatan yang diadakan pada musim panas mengatraksikan kemampuan binatang peliharaan yaitu kuda dan anjing serta peralatan berburu (misalnya tombak / tuba dan bhou) dalam menangkap binatang buruan yaitu : rusa dan babi hutan (celeng). Hasil tangkapan ini disantap secara bersama di lokasi (loka) yang telah disediakan oleh masing-masing suku.







BAB III
PENUTUP
A.   KESIMPULAN
Budaya Flores yang beraneka ragam menuntut semua pihak untuk ikut serta dalam usaha pengembangan dan pelestarian budaya Flores. Dalam hal ini, masyarakat Flores sendirilah yang diharapkan memberikan sumbangan yang paling besar terhadap upaya pengembangan dan pelestarian budayanya. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa masyarakat Flores yang seharusnya paling tahu dan paham terhadap budayanya.
Demikian yang dapat penulis sampaikan dalam makalah ini mengenai budaya Flores. Semoga dapat bermenfaat bagi semua pihak yang membacanya. Kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diperlukan dalam rangka perbaikan.